ANALIS KESEHATAN atau ANALIS MEDIK

Apasih itu? Dokter, ya? Bidan? Atau temennya perawat? Seru nggak kuliahnya? Belajarnya apa aja? terus nanti prospek kerjanya gimana? Susah nggak? Harus dari jurusan IPA, ya?

Halo Assalamualaikum teman-teman!

Alhamdulillah bisa balik lagi ke blog aku dengan tulisan ke——- lupa. Ke berapa ya(?)

Jadi kemarin itu aku iseng-iseng minta pendapat di instastory tentang tulisan ini, dan ternyata responnya, e gila rameeeeee banget, 93% selama tepat 24 jam cuy!

Iyaiyaiya ini dibikinin kok tulisannya karena banyak yang minta, ya tapi walaupun misalnya yang minta dikit, tetep bikin, karena insyaa Allah juga akan bermanfaat, bukan hanya untuk tahun ini, tapi untuk tahun-tahun kedepan. Karena kasus calon mahasiswa yang masih bingung nentuin jurusan kuliah itu selalu ada aja tiap tahun, dan selalu jadi drama dari dulu sampai sekarang, ya mungkin sampai nanti-nanti juga.

Nah, buat ngurangin bingung dan nambahin opsi jurusan apa yang bisa diambil saat daftar kuliah, aku bakal ngenalin jurusan kesehatan yang masih terbilang jarang banget diketahui oleh manusia-manusia di muka bumi ini, yaitu jurusan Analis Kesehatan atau Analis Medik atau Ahli Tenaga Laboratorium Medik (ATLM). *Emang banyak sebutannya:( tapi sama aja kok.

Kalau ditanya sejak awal mimpiku pengen masuk jurusan ini, nggak ada. SAMA SEKALI NGGAK ADA dan nggak kepikiran bakal jadi salah satu mahasiswa AK (Analis Kesehatan). Dan aku pernah nulis ceritaku bisa masuk jurusan ini di blog aku sebelumnya, bisa klik link ini https://adventureofmy.wordpress.com/2018/09/13/18/ , yaaaa siapa tau mau baca ya kan, hehe.

Oke lanjut.

Langsung aja ya.

Pasti banyak yang ngira,

“Eh AK keren nih pasti, mirip dokter-dokter gitu, kayaknya kerjanya lebih bersih karena cuma liat sampel dikit-dikit doang,”

“Jurusannya horror deh kayaknya, nanti ketemu bakteri sama virus-virus gitu, kalau ke-infeksi gimana dong:( yah serem,”

Masya Allah, wkwk. Bener nggak? Yaaa bener sih. Tapi ya ada yang salah juga.

Jadi mending kita kenalan dulu yuk sama jurusana AK, terutama buat yang nggak tahu tentang AK sama sekali, yang malah nggak bisa ngira apa-apa, apalagi ngira kayak pertanyaan diatas, hehe.

Nah jadi gini, dosen-dosen aku bilang, analis kesehatan itu adalah ujung tombaknya ranah medis. Kenapa begitu? Karena dokter hanya akan menjadi penduga-duga kalau tidak ada hasil dari laboratorium. Dan sedangkan nahkodanya laboratorium itu ya para analis kesehatan ini.

Sekarang, gejala penyakit itu hampir mirip-mirip, kalau enggak di periksa di laboratorium, ya mana ketahuan. Misalnya nih ya, ada seorang pasien yang sakit dengan gejala demam tinggi, nyeri perut, dll. Tanpa di cek lab dulu, tiba-tiba dokter mendiagnosa si pasien kena tipes, padahal aselinya si pasien kena DBD, atau sebaliknya, dikarenakan gejalanya emang sama. Gimana nggak fatal coba? Obatnya aja beda. Malah tambah parah dong.

Nah, disini peran seorang analis.

Analis kesehatan ini mempelajari tentang cairan tubuh manusia, yakni darah, urine (pipis), feses (eek), sputum (dahak), pus (nanah), muntahan, bahkan liquor cerebro spinalis (cairan otak), dll. Dan yang paling berat yaitu pemeriksaan bakteri bahkan sampai jaringan.  Ngeri nggak, sih? Iya:(

Karena aku masih semester 2, aku baru mempelajari tentang pemeriksaan darah, urine, dan feses. Termasuk juga parasit (biasanya spesimennya eek), itu udah, tapi belum selesai, dan bulan puasa ini akan masuk pada materi bakteriologi. Itu darah, urine, feses, pas praktek dapet darimana? Beli? Ya nggak, lah. Kami bawa sendiri-sendiri, dan darah kita ngambil dari temen sekelas. Jadi tiap minggu itu sekitar 1-2x kita ngambil darah, jadi harus siap ngambil dan diambil darahnya:) *oiya btw itu di kampus aku ya, ngga tau kalau di kampus lain, tapi kayaknya ya rata-rata sama, ya ada sih yang ngambil darahnya bukan ke temen sendiri, tapi ke alat kayak boneka manusia gitu yang bisa ngeluarin darah, itu buat latihan. Tapi kalau dikampusku, itu bener-bener kita dihadepin sama manusia langsung, supaya terbiasa:)

Nah, JADI, analis itu adalah sebuah pekerjaan yang beresiko tinggi. Harus teliti, dan berhati-hati. Karena selain hasil yang harus dipertanggung jawabkan kita juga berhadapan dengan spesimen yang bisa saja menularkan penyakit. Mulai dari penyakit ringan sampai yang fatal seperti hepatitis dan HIV.

Tapi jangan takut, ya emang itu tantangannya seorang analis, serunya analis, jasanya analis, hebatnya analis *azek*

Daaaaaan, prospek kerjanya itu banyak banget, banyak-banyak banget. Kalian tahu sendiri kan, orang sakit dan penyakit itu akan selalu ada. Nah disini fungsi analis bener-bener dibutuhin, selain di rumah sakit, ini daftar prospek kerja analis:

Dinas Kesehatan
Puskesmas
Laboratorium Rumah Sakit Swasta/ Daerah
Laboratorium Klinik Swasta
Laboratorium Kesehatan Daerah
BPOM (Badan Pengawas Obat Dan Makanan)
BNN (Badan Narkotika Nasional)
Laboratorium Forensik Kepolisian
Laboratorium Rumah Sakit Tentara
Lembaga Penelitian Sains (LIPI dan Biofarma)
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA)
Perusahaan Di Bidang Makanan-Minuman dan Farmasi
Palang Merah Indonesia (PMI)
Dosen di Sekolah Ilmu Kesehatan
Petugas Kesehatan Haji Indonesia

Waaaaaah banyak, kaaaaan? Ada yang minat jadi bagian dari mahasiswa analis kesehatan? atau mahasiswa ahli tenaga laboratorium kesehatan Indonesia? Ini nih daftar 14 instansi di Jawa Timur yang menyediakan jurusan analis kesehatan.

  1. Akademi Analis Kesehatan Malang (AAKMAL)
  2. Akademi Analis Kesehatan Delima Husada Gresik
  3. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maharani Malang (STIKES Maharani)
  4. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendikia Medika Jombang (ICMe Jombang)
  5. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hutama Abdi Husada Tulungagung
  6. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudia Husada Madura
  7. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rumah Sakit Anwar Medika Sidoarjo
  8. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri (IIK Kediri)
  9. Poltekkes Kemenkes Surabaya
  10. Universitas Airlangga Surabaya (UNAIR)
  11. Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS)
  12. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
  13. Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo (UMAHA)
  14. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA)

 

Apakah hanya dari jurusan IPA yang bisa masuk analis? Jawabannya adalah TIDAK. Siapapun kamu, darimanapun kamu, kamu bisa jadi bagian dari kami, disini semuanya dimulai dari nol, dan pastinya kamu yang dari non IPA, bisa mengikuti.

Kuliahnya susah, nggak? Oke, pertanyaan ini relatif ya, jadi jawabannya juga relatif. Menurutku, semua jurusan kuliah sama aja, sama-sama ada enak nggak enaknya, ada susah dan nggak susahnya, semua kembali kepada diri masing-masing. Asal ada niat, pasti enjoy aja ngejalaninnya.

Testimoni sedikit dari aku yang hampir setahun di jurusan ini, aku jadi lebih peduli sama diri sendiri dan orang lain, peduli terhadap pola hidup dan kesehatannya. Aku jadi lebih perhatian terhadap penyakit, sebab-akibatnya. Beneran deh, pikiran kalian bakal kebuka, wawasan makin luas, dan kalian minimal bisa ngejagain dan lebih was-was terhadap pola hidup dan kesehatan kalian sendiri, keluarga, dan doi *hehe gak deng. Inget, penyakit itu nggak pernah ada habisnya dan akan selalu ada disekeliling kita.

Ohiya, mungkin ada yang nanya, nyesel nggak masuk jurusan ini? Iya pernah, waktu beberapa bulan jadi maba. Karena sebenernya emang maunya nggak disini, dan passion aku adalah hitung-hitungan, bukan malah kenalan sama virus. Tapi lama-lama juga biasa aja, belum sampai cinta sih kejurusan ini, Cuma sebatas bisa move on dari jurusan impian dulu. Karena kalau dirasain ternyata seru juga kuliah dijurusan ini. Dan mungkin, seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu akan muncul *azek

Jadi buat kamu yang ada niatan kuliah dijurusan ini, semangaaaat ya, aku tunggu jadi temen aku dijurusan ini.

Oke, segitu dulu ya sedikit penjelasanku tentang jurusan analis kesehatan. sebenernya masih buanyak banget yang belum disampaiin. Kalau misalnya ada pertanyaan, bisa dm ke @hafidhohasna.

Mungkin kalau ada sesama mahasiswa analis kesehatan lainnya yang baca tulisan ini bisa bersedia berbagi atau mengoreksi pendapatku, silahkan comment down below atau dm di ig. Maap kalau ada kata atau kalimat yang salah.

Sekian, wassalamualaikum.

Ohiya btw Marhaban ya Ramadhan ya semuanyaa. Selamat menjalankan ibadah puasa jika kalian baca ini di siang hari. Dan jangan lupa makan sahur yang kenyang kalau bacanya di sepertiga malam yang terakhir. Dan lagi, selamat berbuka puasa kalau kalian bacanya pas maghrib, siapa tau jomblo jadi ga ada yang ngucapin kan kamuuu, hehe.

Bhay.

Iklan

Nyapa Duluan!

Pernah suatu hari gitu aku nyapa seorang kakak tingkatku di kampus, kita cuma beberapa kali ketemu, dan belum tau nama masing-masing, setelah kakaknya pergi, temen disebelah aku bilang “Aneh banget sih kamu, emang kenal?”.

Hm, mungkin diantara kalian ada yang sepemikiran dengan temanku itu, nggak kenal, tapi nyapa, kesannya kan jadi sok kenal. Emang gitu ya? Tolong kalo aku salah atau sok tau, dikoreksi ya, hehe.

Aku dari dulu emang gitu, nggak tau kenapa, suka banget nyapa orang, apalagi orang itu usianya diatas aku. Tapi bukan sembarang orang aku sapa, ya kali baru ketemu di jalan, disapa, baru ketemu di tempat makan, disapa, baru ketemu di indomaret, disapa, ya nggak lah, kayak orang aneh dong kalo yang itu:)

Aku suka nyapa orang yang satu lingkungan dengan aku, walaupun nggak kenal. Misal, waktu SMA, pas aku jadi siswa baru, aku suka banget nyapa kakak kelas ku waktu papasan gitu, bukan sok cari muka atau gimana, menurutku itu adalah etika.

Apalagi dengan keadaanku sekarang, setiap hari di kampus yang satu atap sama kakak-kakak tingkatku, satu gedung, kelasnya aja satu lantai, walaupun nggak kenal, sopan nggak kalau kita nggak nyapa waktu papasan? Menurutku itu nggak sopan sama sekali 🙂 Bukan karena apa-apa, sekali lagi, menurutku itu adalah etika.

Saling nyapa itu nggak ada ruginya, kok. Nggak bakalan ngurangin jatah udara yang kita hirup, nggak bakal ngurangin uang jajan, apalagi ngurangin beban hidup, haha, yang ini becanda. Yang ada, nambah respect kita kepada orang lain.

Aku suka nyapa ibu-ibu penjual sayur yang sering aku beli masakannya kalo kita ketemu, aku suka nyapa mbak-mbak penjaga pintu kampus kalo emang mbaknya lagi di tempatnya, aku suka nyapa semua orang yang sering aku temui walaupun toh aku nggak tau namanya, itu etika.

Jangan gengsi dong nyapa duluan. Aku, dulu di sekolah juga sering kok nyapa adik kelas yang kenal duluan, walaupun dia lagi nggak ngelihat aku, aku manggil dia. Jangan mentang-mentang udah jadi kakak kelas, nggak mau nyapa duluan sama adik kelas, maunya di sapa, buat apa? Biar apa?

Ya memang sih, aku nggak bakal nyapa dulu adik kelas atau temen seangkatan yang belum kenal sama sekali, yang asing gitu, aku nggak bakal nyapa duluan walaupun kita satu lingkungan. Tapi kalau udah tau, udah beberapa kali ketemu, walaupun belum tau nama, greeting first doesn’t hurt, right?

Suatu hari, aku ketemu sama kakak tingkatku, kita sama-sama ngeliat, tapi nggak ada satupun yang senyum apalagi nyapa, padahal kita kenal. Nggak tau kenapa, aku ngerasa nyeseeeel banget, nyesel kenapa nggak aku sapa, etikaku dimana:(

Sedih gitu kalau kita kenal, tapi nggak nyapa. Tapi lebih sedih lagi, kalau aku nyapa, tapi dikacangin, haha. Pernah? Pernah dong. Terus kalau ketemu nyapa lagi? Iya dong, kan beretika.

Yuk, mulai sekarang jangan pelit senyum, jangan pelit sapa, kita hidup bareng-bareng, kalau ketemu terus senyum, kan enak ngeliatnya:)

Goodbye 2018! Goodbye Bad Year!

Akhirnyaaaaa

Akhirnya nyampe juga di akhir penghujung tahun, tahun dimana penuh banget banget banget tangisan. Tahun yang paling bastard menurutku!

Aku nggak tahu, bakal menutup tahun ini dengan rasa syukur atau penyesalan, dengan alhamdulillah atau astagfirullah. Tapi kayaknya nggak mungkin banget ada syukurnya, yaaaa ya mungkin bersyukur karena tahun betrayed ini segera berakhir dan semoga tidak akan terulang tahun bastard betrayed di 2019 lagi, semoga tidak! Astagfirullah, nyeselnya kenapa harus ada tahun se-ngeselin tahun ini.

Orang-orang bilang kan tahun baru membuka lembaran baru, memulai sesuatu yang baru, melakukan hal-hal yang lebih baik dan meninggalkan semua keburukan di tahun sebelumnya. Nah, semoga hal-hal buruk, hal-hal yang nyedihin, hal-hal yang nyusahin tetap stuck di 2018 dan nggak ngikut ke 2019.  Aamiin aamiin.

Kenapa 2018 jadi tahun terburukku? Karena semua resolusi, semua keinginan, impian, harapan, target, dan apapun yang aku harepin di tahun 2018 sama sekali NGGAK ADA YANG TERCAPAI! NOT ACHIEVED AT ALL!

Sebenernya tahun 2018 adalah tahun pertamaku punya banyak banget target, yang aku susun dan rencanain dengan rapih, karena aku ngerasa ini adalah tahun yang tepat dengan semua resolusi yang harus aku capai di usiaku yang udah tujuh belasan ini, dan aku nggak mungkin juga tetap ngalir dan ngikutin arus seperti umurku sebelum-sebelumnya yang nggak punya target apa-apa.

Dan, karena adanya target inilah yang membuatku merasa menjadi orang yang paling sial di tahun ini.

Dulu di akhir tahun 2017, aku beli buku kecil, e nggak kecil deng, ya sedeng lah, buku diary gitu dan aku beli bolpen 3 warna, hitam, merah dan hijau. Tujuan aku beli buku dan bolpen itu bukan buat nulis cerita-cerita keseharian atau kisah-kisah yang aku alamin atau malah curhatan-curhatan galau gitu, enggak! Tujuan aku adalah buat nulis se-mu-a mimpi-mimpi aku di tahun 2018, semua doa-doa aku, resolusi, harapan-harapan aku, semua aku tulis disana dengan bolpen warna hitam. Dan bolpen warna hijau buat nulis “Have Done (Tanggal tercapai)” sedangkan warna merah untuk nyoret yang nggak tercapai atau GAGAL. And do u know? My green pen is not useful at all. Haha. Kalau aja buku itu sekarang masih ada, pasti akan kutunjukkan bagaimana banyaknya harapan-harapanku yang aku tulis disana, bukuku hampir penuh dengan impian 2018. Tapi, semuanya penuh dengan coretan warna merah, se-mu-a-nya! Sama sekali kau tak akan menemukan warna hijau disana. Sayangnya, semenjak aku tinggal di Malang untuk kuliah, buku itu tak ku bawa dan sengaja aku tinggal, karena itu merupakan sebuah benda yang sangat buruk dan menyedihkan yang pernah aku punyai. Entah sekarang dimana, dibagian rumah sebelah mana aku simpan, aku sudah lupa.

Ya mungkin lu cuma nulis-nulis doang kali, usaha dan doa lu nol!

Wkwkwk mungkin jika kau adalah orang tuaku, kau juga akan ikut merasakan kesedihan aku sebagai seorang anak yang punya banyak impian lalu gagal, dan mungkin kau akan memelukku karena merasa kasian, sama seperti yang ibuku lakukan padaku. Aku tak mungkin akan menulis dan menceritakan bagaimana usaha dan ibadah-ibadahku untuk memperjuangkan semua mimpiku itu, kan?

Mungkin kalian berpikir, halah mungkin kegagalan lu cuma gagal masuk ke kuliah dan jurusan impian lu kan? Gagal masuk perguruan tinggi negeri kan? Halah lebay, lu nggak sendiri kali! Banyak diluaran sana anak-anak dengan kegagalan yang sama kayak yang lu alamin.

Lah, yakali buku impian yang punya lebih dari seratus halaman hanya aku tulis dengan,

Lolos SNMPTN 2018!

Lolos SBMPTN 2018!

Masuk Jurusan Farmasi!

Jadi mahasiswa Unair!

Jadi mahasiswa Unej!

Bisa makan mie ayam depan Unej tiap hari!

Ya nggak lah! Nggak itu aja.

Dan yaaaa, mungkin juga itu adalah impian terakhir yang aku coret dengan warna merah, karena setelah impian itu pupus aku udah ke Malang kan, makannya aku nggak bisa nyoret-nyoret impian setelahnya karena bukunya aja nggak aku bawa. Maksudku, em gimana ya, ya impian yang aku tulis sebelum mimpi yang itu udah banyak ya, dan semuanya gagal, nah nyampe di impian itu, aku udah nggak mau nerusin lagi karena impian-impian aku selanjutnya adalah impian yang berhubungan dengan impian itu, kalau impian itu gagal maka mimpi selanjutnya udah dipastikan  nggak akan tercapai, gitu-gitu deh, aku bingung ngejelasinnya.

Ya sebenernya ada sih beberapa impian aku setelah impian yang gagal-gagal itu dan nggak berhubungan dengan itu (gimana paham gak sih?) yang belum aku coret-coret karena bukunya udah aku tinggalin, tapi yaaaaa, buktinya sampe sekarang nggak tercapai berarti dikatakan gagal ditahun ini, kan? Iya, kan? Nah, impian yang ini emang nggak aku usahain sama sekali dan nggak aku perjuangin sama sekali karena aku udah bener-bener males, bener-bener capek kecewa, hehe:’)

Setelah aku pindah ke Malang, aku emang udah bener-bener lupain impian-impian aku di tahun ini, dan nggak akan aku bawa kesini, jadi aku kayak jalanin sisa tahun ini dengan datar gitu, kayak jalanin-jalanin aja dan nggak ada target baru setelah aku pindah kesini. Ngerjain apapun sesuai mood. Ya ibaratnya empat bulan aku disini kayak eek di kali gitu mungkin, ngikut alur aja, ngalir aja, kalau nangsang ya nangsang aja, gitu.

Selepas dengan semua impian aku yang gagal, di tahun ini adalah tahun dimana aku kehilangan nenek aku, beliau serumah sama aku, yang ngerawat aku dari bayi juga, nenek aku meninggal karena sakit parah, dan aku nggak ada disamping nenek aku pas beliau sakit, sampe dirawat dirumah sakit bahkan sampe beliau meninggal aku nggak ada, sampe dimakamin-pun aku nggak tau! Karena aku selama SMA di asrama kan, dan tepat di hari nenek aku meninggal itu aku lagi UN di hari terakhir, nenek aku meninggal tepat di jam 10 pagi, bareng sama selesainya aku ujian karena aku kebagian sesi pertama, tapi aku nggak tau, aku nggak dikabarin, aku nggak dijemput, dan aku taunya itu udah mau maghrib, aku pulang kerumah semua udah selesai dan udah mau persiapan ngaji gitu, nenek aku udah dimakamin dari siang. Bahkan aku lupa kapan terakhir ketemu nenek aku, terakhir ngobrol juga lupa kapan. Tapi yang paling buat aku ngerasa spesial itu, aku adalah satu-satunya dari ketujuh cucu nenek aku yang dipamitin dulu lewat mimpi, dan sampe 40 hari nenek aku meninggal, aku adalah cucu yang hampir tiap hari didatengin lewat mimpi, yang dikasi pesan, dikasi tau apapun, yang diucapin gitu-gitu, sedangkan ke-enam cucunya yang lain sekalipun nggak pernah, bahkan ibu aku, yang anaknya nenek aku sendiri nggak didatengin lewat mimpi, gitu. Tau, nggak? Waktu nenek aku meninggal aku sama sekali nggak nangis, loh, bukannya apa-apa, lebih baik meninggal aja kan ya daripada harus sakit-sakit terus dan harus bolak-balik rumah sakit, btw nenek aku sakit kanker dan udah stadium akhir, jadi kasian kalo kelamaan:’)

Ditahun ini, emang aku nggak ngerasain secara langsung, tapi melihat  saudara-saudara yang lain, yang ngerasain kehilangan, itu sedih banget, bener-bener kasian gitu. Tahun ini adalah tahun dimana Indonesia sedang berduka, karena musibah dimana-mana, bencana kapan aja, bahkan sampai dipenghujung tahun ini, masih adaaa aja musibah. Ya Allah 2018, this is a very sad year.

Semoga dengan berakhirnya tahun ini, berakhir juga kesedihan dan musibah-musibah, semoga tahun yang akan datang adalah tahun yang penuh dengan rahmat dan kedamaian. Goodbye 2018, tahun yang penuh duka, baik untuk diriku ataupun Indonesia. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai kita, aamiin.

Dan untuk 2019, aku tidak punya resolusi apa-apa, tidak punya target apa-apa, tidak punya impian apa-apa, aku hanya ingin menjalani semua apa yang udah ditakdirkan untukku, melakukan semua dengan sepenuh hati, melakukan semua hari-hariku dengan sebaik mungkin. Aku mau punya target lulus dengan cumlaude juga nggak mungkin, mau bangun laboratorium juga nggak mungkin, iyalah karena aku masih semester awal:v. Aku cuma pengen ngerubah mindset aku dan ngehilangin rasa males aku (ini resolusi bukan sih? wkwk), udah itu aja, karena kalau aku mau punya impian dan target sebanyak dan sehebat apapun juga bakal sia-sia kalau mindset dan rasa males aku masih nempel di diri aku, ya nggak sih? Aku nggak nyiapin apapun sekarang, aku bener-bener nggak nargetin apapun, biar waktu berjalan dulu, misal aku lagi pengen ngapain, aku lakuin, kalau nggak pengen, ya nggak aku lakuin, karena aku juga nggak tau nanti pengennya apa. Bukan berarti aku nggak punya tujuan atau kepercayaan diri di tahun 2019, aku hanya akan melakukan apapun yang aku pengen di saat itu juga, bukan yang aku siapkan dari sekarang. Yaudahlah, pokoknya gitu. Makasih udah mau baca, udah mau mampir di tulisan aku yang absurd ini. See you di next blog!

Welcome 2019, semoga aku jadi lebih baik dan bisa me-refresh dan me-renew diriku ini, semoga males-ku bisa aku hilangkan dan ibadahku semakin baik lagi, udah. Baybaaayy!

Et, aku tutup tahun ini dengan Alhamdulillah aja, karena kata Allah, jika kau bersyukur, maka nikmat itu akan Aku tambah! Alhamdulillah, semoga dengan kesedihan tahun ini aku bisa menjadi pribadi yang lebih hebat dan tangguh.

My Bestie Like a Rainbow

Everyone must have a very influential person in his life, for example a bestfriends or bestie.

Yak, aku yakin, nggak ada orang di dunia ini yang hidup sendirian, yang nggak punya temen, yang nggak punya bestie, aku yakin nggak ada, semua pasti punya.

Entah itu temen dari kecil, temen di sekolah, saudara sendiri, orang tua, bahkan hewan peliharaan, ‘cause the best friend is anyone who is always with us. Yang ngerti kita dan selalu ada buat kita.

Aku sendiri punya baaaanyak banget temen, banyak banyak banyak banget, entah itu dari lingkungan rumah, sekolah, asrama, atau bahkan cuma di sosial media. Tapi, tidak semua menjadi sahabat atau teman terdekatku.

Aku disini akan menuliskan tentang teman-teman terdekatku yang aku kenal mereka disekolah, karena emang mereka yang dari dulu sampe sekarang masih deket banget.

Kenapa mereka aku ibaratkan dengan pelangi? Warna-warni? Hm, banyak sekali definisi dan makna pelangi yang pernah kubaca, entah itu dari quotes-quotes di buku atau sosial media. Iya emang, warna-warni, mereka yang mewarnai hari-hari pagi sampai menjelang soreku, yang buat seru, buat seneng, buat jengkel, buat badmood juga kadang, tapi tetep, mereka juga moodboster aku, yang suka nge-bully, yang suka nyontek PR (kadang aku juga sih, wkwk), yang suka ngajak kerjasama kalau ulangan :v yang tiap hari makan bareng, main bareng, bengong di depan kelas bareng, nyanyi-nyanyi ga jelas bareng, diomelin guru bareng, karena tiap hari kita emang bareng-bareng. Pokoknya hariku jadi nggak putih abu-abu doang kalau sama mereka.

Tapi selain warna-warni, mereka juga nggak lama. Sama seperti pelangi, mereka hanya sebentar dan segera menghilang. Di ibaratkan sekarang adalah musim kemarau, pelangi itu tidak akan muncul, karena sekarang kami jauh dan tidak seperti dulu yang setiap hari bareng-bareng, sekarang kami punya tujuan kehidupan masing-masing, akupun merasakan kemarau itu, yang selalu menantikan hujan untuk melihat pelangi itu muncul lagi, karena hujannya kami sama halnya dengan musim liburan, hanya liburan itulah kita bisa bareng-bareng lagi, walau hanya sehari dua hari, tapi itu udah lebih dari cukup.

Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Sama seperti pelangi, teman-temanku memiliki karakter masing-masing, yang jelas berbeda satu sama lain, dan itulah yang ngebuat pertemanan kami semakin berwarna. Warna merah, aku kasi buat Maya, karena dia adalah salah satu yang paling berani diantara kita, berani ambil resiko yang bahaya menurutku, haha. Dia yang berani nonton film disaat guru lagi nerangin pelajaran, yaa emang semua nonton sih, tapi Maya adalah setan yang ngajakin, dan aku adalah malaikat yang nggak pernah ikut-ikut haha. Dia juga yang paling berani baca novel Dilan disaat guru kimia lagi panjang lebar ngajar, akhirnya novelnya disita kan wkwk.

Warna jingga aku kasi buat Nora, karena Nora yang paling gila diantara kami, yang paling absurd, ga jelas, dan paling suka buat ngakak karena omongan dia yang emang receh. Dia sebangku sama Maya, tapi untungnya dia nggak sebahaya Maya di kelas. Sesuai dengan warna jingga yang melambangkan keceriaan.

Warna kuning aku kasi buat Fika, karena dia yang paling ke-emak-emak-an, yang paling ribet, yang mikirin semuanya secara detail. Kalau misalnya kami mau ada acara atau mau kemana, dia yang paling riweh. Mulai dari baju, celana, jilbab, sampai nanti susunan acara dia yang paling ribet deh pokoknya. Dibalik keriwehannya dia, dia yang paling care ke temen-temennya, sesuai warna kuning yang berarti solidaritas.

Warna hijau aku kasi buat Jub, karena dia yang paling enakan diantara kami, yang gak pernah berat hati dan dermawan si kalau menurut aku. Dia tipe temen yang netral, gak pernah mihak siapa-siapa kalau diantara kami ada yang lagi berantem, dan dia yang paling gampang minta maaf kalau misalnya dia ngerasa salah. Sesuai warna hijau untuknya, yang melambangkan keharmonisan.

Lalu warna biru aku kasi buat Rike, dia adalah temen yang paling anteng si diantara kami, nggak pernah aneh-aneh dan apa adanya, dia suka ngalah kalau misalnya kami beda pendapat. Dia yang paling anggun dan paling feminim sih, sesuai warna biru yang berarti ketenangan.

Selanjutnya warna nila aku kasi buat Ida, dia yang paling blak-blak-an, yang paling semaunya dia, yang banyak bacot wkwk, tapi dia yang paling enak si, soalnya nggak pernah membesar-besarkan hal sepele dan selalu nyikapin apapun dengan pemikiran yang emang realistis. Pas banget warna nila yang bermakna keterbukaan.

Dan terakhir warna ungu, warna ungu yang berarti imajinasi dan inspirasi, aku kasi buat semua temen-temenku yang nggak aku sebutin. Mereka semua adalah inspirasi buat aku, inspirasi untuk menjadi lebih absurd.

Kenapa diantara teman-temanku aku tak mendefinisikan siapa yang paling suka ngambek dan kayak anak kecil, karena kami semua masih kayak anak kecil dan suka ngambek, diem-dieman gak jelas, tapi semua itu emang warna, warna dalam pertemanan.

Yaaap, sahabat emang seperti pelangi, berwarna dan indah namun hanya sesaat, karena mereka tak akan selamanya ada disamping kita, tak selamanya menua bersama kita, tak selamanya sejalan dan sepemikiran sama kita, tak selamanya hidup dan berdampingan sama kita, karena kita pasti akan menemukan dimana masa kita harus berpisah jauh dan mengejar apa yang kita inginkan masing-masing. Dan teman yang selamanya ada disamping kita, menua bersama kita, hidup dan berdampingan sama kita, satu tujuan sama kita, ya pasangan kita sendiri, jodoh kita sendiri, karena dia-lah teman hidup kita. Dia bukan pelangi, bukan matahari atau hujan, dia adalah bagian dari diri kita sendiri.

Hujan senja dan sepucuk surat untukmu, seseorang yang belum kutemui. (Bagian 2/2-Selesai)

Hallooooo! Welcome back to Hafidhoh blog!

Dengan judul yang sama tapi dengan bagian yang berbeda, aku akan melanjutkan ceritaku yang sebelumnya, sebenernya ini gatau cerita atau curhatan atau apa, yang pasti aku mau ngucapin terimakasih buat yang udah luangin waktunya buat baca tulisan kayak gini.

Di bagian sebelumnya, bisa klik link ini https://adventureofmy.wordpress.com/2018/11/28/hujan-senja-dan-sepucuk-surat-untukmu-seseorang-yang-belum-kutemui-bagian-1-2/ sampai tulisan ini, Ya, semenjak itu juga, hubungan kami hanya sebatas saling senyum saat bertemu dan menghargai satu sama lain, aku juga tahu diri untuk tidak merusak hubungan yang ia bangun dengan orang lain, dan aku mencoba membuang semua rasaku.

Hingga akhirnya, aku bertemu dengan seseorang lagi, yang membuatku semakin bodoh tentang masalah perasaan, dia teman satu sekolahku, satu angkatan denganku, tapi beda kelas.

Aku pertama kali melihatnya di lapangan futsal sekolah pada saat acara classmeeting tahunan. Saat itu aku sudah kelas 11 semester 2, dan menjadi panitia dokumentasi acara. Selama hampir 2 tahun aku menjadi siswa dan menjadi teman seangkatannya, aku sama sekali nggak pernah lihat dia apalagi kenal dia, wajahnya super asing, bahkan aku sama sekali enggak tau kalau dia juga satu jurusan sama aku. Entah karena dia yang introvert banget atau aku yang tidak memperhatikan wajah teman-teman satu angkatanku, tapi serius, apalagi nama, bahkan wajahnya saja aku baru pertama kali lihat.

Kesan pertama melihatnya, dia manis, udah. Setelah itu, aku beberapa kali memfotonya, melihatnya secara detail melalui kamera yang ku pegang, cute juga kalo diperhatiin. Sampai acara classmeeting berakhirpun, rasa penasaranku hanya berhenti sampai disitu aja.

Hingga akhirnya, pagi-pagi banget hp ku bunyi, ada dm instagram masuk, nama akunnya asing sih, karena kepo juga, aku buka profilnya, oh God, inikan cowo manis dilapangan waktu itu, ooooh namanya Sadam. Nah dari itu kita sedikit bales-balesan dm, dan ternyata dia emang udah tau aku lumayan lama, aku nya aja yang gatau dia:’) Semenjak itu, semenjak kita chat di dm, kita kayak sering banget ketemu dalam situasi yang nggak sengaja. Dan, aku salting wkwk. Ya gimana ya, kenapa kita ketemunya pas udah saling kenal lewat sosmed, kenapa nggak dari dulu-dulu aja gitu, tapi yaudah sih, aku bersyukur aja.

Setelah classmeeting, bagiin raport, dan akhirnya sekolahku libur 2 minggu. Nah, diawal-awal liburan, aku sama Sadam mulai berteman di bbm, dan you know? Selama 2 minggu liburan itu aku sama sekali nggak pernah ngerasain bosen padahal nggak kemana-mana karena tiap hari dapet chat dari Sadam, serius, itu nyenengin banget, walaupun di chat kita ngebahas hal-hal yang garing dan sama sekali nggak penting, tapi rasanya something banget, wkwkw maafkan aku alay.

Kedeketan kita ternyata nggak cuma di chat doang, setelah liburan usai, kita juga deket di dunia nyata, kita sering ketemu di jam istirahat pertama atau kedua, dan itu tiap hari karena kelas kita tetanggaan cuma kegangan satu kelas aja. Seneng sih, seneng banget, ya awalnya dia kayak malu-malu gitu pas awal-awal ketemu, dan beberapa kali harus aku yang mulai semuanya duluan, yang nyapa duluan, tapi akhirnya aku dapet feedback positif dari dia, karena dia aselinya emang asik, nyenengin, daaaaaaaaan, ngangenin. Wkwk.

Aku ya, aku pribadi kalo kenal orang lewat chat, dia sok asik dan ramah di chat, tapi pas ketemu dia sama sekali kayak nggak nanggepin, aku lebih milih lost kontak, serius. Yaa mungkin awalnya emang dia masih malu-malu, dan aku bisa aja ngalahin buat nyapa duluan, tapi kalo lebih dari sekali tetep aku yang harus mulai, yaudah, lu cari aja temen yang lain wkwk, aku mah ogah, yakali harus aku terus yang duluan.

Tapi Sadam enggak gitu, ya emang sekali harus aku, tapi berkali-kali-kali selanjutnya, dia yang duluan dong haha, dan itu nyenengin, aseli. Kedeketan kita berlanjut selama kurang lebih 3 bulanan, kita sering ngasi semangat satu sama lain, saling peduli, dan, aku rasa, aku mulai ada rasa lebih sama Sadam, hm. Rasanya kangen gitu kalo sehari enggak ketemu, atau enggak di chat, kangen. Hingga suatu hari, aku ngelakuin kesalahan sampe buat Sadam marah banget ke aku, padahal niatku cuma becanda doang, tapi dia bener-bener marah sampe nggak mau ngomong sama aku, chatku cuma di read aja, bahkan pas kita ketemu dia buang muka gitu. Aku udah berusaha keras buat minta maaf, berkali-kali aku minta maaf sama dia, tapi dia nggak nanggepin sama sekali. Ah rasanya sedih banget kalo Sadam lagi marah, aku ngerasa kehilangan moodboster. Selama lebih dua minggu, kita belum baikan, aku capek juga buat minta maaf tapi nggak dimaaf-maafin. Mungkin dia ilfeel kali ya:’)

Hingga pada suatu hari, dia nge dm aku lagi minta kontakku, dan betapa senengnya aku pas tau kalo Sadam enggak marah lagi. Tapi, semenjak itu, sifat Sadam beda banget, dia gampang ngambek, gampang marah, enggak sebaik sebelumnya. Dan disituasi kayak gitu, aku bener-bener harus hati-hati banget buat jaga perasaannya dia biar nggak ngambek dan harus selalu aku yang ngalah. And what do u feel? U r a woman, but instead u have to try to keep everything, keep him feelings, dan selalu mengalah, kebalik dooooong. Dan hubungan kita kayak berantakan banget, padahal aku udah ngejaga semuanya, dan emang kayaknya dia sengaja ngebuat kayak gini.

Dan kita udah lost kontak itu 13 kali! Aku ngehitungin masa, ya kayak tarik ulur gitu, dia dateng, ngasi harapan, aku berharap, dia pergi, dia ngehapus semua kontakku di sosmednya bahkan sampe unfollow ig, ilang, kayak gak kenal, pas aku udah mencoba menerima perlakuannya, dia dateng lagi, ngasi harapan lagi, aku berharap lagi, dia pergi lagi, ilang lagi, gituuuu terus berulang-ulang sampe berbulan-bulan, begonya aku welcome terus sama dia, padahal aku jelas udah tau apa yang bakal terjadi saat aku nanggepin dia lagi, bodoh ya aku? Haha, gak ngerti lagi sih kenapa aku sebodoh itu, aku hanya menikmati tiap waktu yang dia berikan tanpa mempedulikan kepedihan yang ia kasi. Sampai dia punya pacarpun, aku tetep gak peduli, sama sekali aku gak benci atau marah sama dia dan tetep sayang sama dia. Hah? Sayang ya? Enggak tau juga kenapa malah jadi rasa kayak gini yang ada pas dia mainin aku. Sebelumnya, seumur-umur, aku belum pernah kayak gini, setabah ini wkwk, seikhlas ini, aku kayak ngasi sayang kedia tuluuuuus banget, gimanapun jahatnya dia, aku tetep sayang. Bahkan temen-temenku, sahabat-sahabatku udah panjang lebar nasehatin aku, berbagai cara mereka ngebantuin aku buat move on dari Sadam, udah ngejelek-jelekin Sadam di depan aku walaupun itu emang fakta, tapi sama sekali aku nggak pernah bisa benci sama Sadam. Aku capek sebenernya kayak gini, capeeeeek banget, capek hati capek pikiran, tapi aku tetep ngeharepin Sadam balik lagi kayak dulu. Tapi, aku sama sekali nggak ada kepengenan buat milikin atau dimilikin Sadam. SAMA SEKALI NGGAK ADA. Karena aku emang nggak mau pacaran, aku nggak mau punya pacar, secinta apapun aku sama dia. Aku Cuma pengen dia balik lagi kayak dulu, deket kayak dulu, asik kayak dulu dan perhatian kayak dulu. Cuma pengen itu aja, terserah dia mau sama siapa, tapi please Sadam, come back as before😦

Cintaku ke Sadam diibaratkan hujan di senja hari ya, tetap jatuh turun meski nggak akan ada pelangi, tapi malah gelap yang menghampiri. Huhu sedih:’) Tapi aku gak pernah sekalipun nangisin dia, sekalipun gak pernah! Sejahat apapun dia dan sesering apapun dia membuatku kehilangan, air mata itu tak pernah keluar untuknya.

Dan sampe akhirnya, dipuncak aku bener-bener capek karena perlakuan Sadam yang menurutku keterlaluan banget, dia ngasi harapan setinggi langit, dan didorong dari ketinggian itu, rasanya….

Aku ngeberaniin diri, nyiapin mental banget buat bener-bener ngeluh ke Sadam, karena awalnya aku cuma nerima aja semua perlakuannya. Malam itu, lewat dm, aku ngeluh ke dia, bener-bener ngeluh dan sampai akhirnya aku ngungkapin semua apa yang aku rasain ke dia, tentang perasaan aku, SEMUANYA. Aku udah bodo amat waktu itu, aku udah nggak punya malu sama sekali, pikirku waktu itu, kalo dia ilfeel biar ilfeel sekalian, biar dia jijik sekalian, biar dia benci sekalian, aku udah capek banget buat sabar terus, dan aku janjiin ke diri aku sendiri ini adalah terakhir kali aku kontakan sama dia. Dan kamu tau apa responnya? Yaaa dia nggak ngerespon sama sekali, chat panjang lebar aku CUMA DI BACA DOANG. Haha, bodo amat. BODO AMAAAAT!

Nah, dari situ, aku kayak termotivasi banget buat jadi lebih baik, buat lebih hati-hati lagi ngasi sayang aku ke orang. Karena emang, aku kalo udah sayang bisa sebodoh itu, bisa buat pelajaran banget.

Butuh waktu berbulan-bulan juga buat move on dari Sadam, apalagi kita masih satu lingkungan sekolah, berat sih, apalagi pas papasan sama dia, kayak ada malu-malunya gitu. Ya bayangin aja kalo kamu udah ngungkapin apa yang kamu rasain ke orang, dan orangnya sama sekali nggak peduli, dan pas kalian ga sengaja ketemu, mau ditaruh dimana tuh mukaaaaa? Wkwk.

Tapi seiring waktu berjalan, aku bener-bener berhasil move on dari Sadam terhitung beberapa minggu sebelum acara perpisahan angkatanku. Dan, itu dibantu oleh sahabat-sahabatku. Ada, satu sahabat cowoku yang bener-bener nguatin banget, ngebantu banget, daaaan peduli banget, bahkan aku hampir luluh sama dia gara-gara sikap-sikap manis yang ia kasi buat aku, karena emang sebagian besar move on aku dateng dari dia, sahabat aku itu, sebut saja dia Dinar wkwk. Tapi balik lagi, aku nggak mau pacaran, apalagi sama sahabat aku, absolutely NOT.

Dan tibalah hari perpisahan itu, hari dimana aku harus berpisah dengan sahabat-sahabatku, harus bener-bener berjuang buat jenjang berikutnya, nungguin hasil SNMPTN, nyiapin SBMPTN dan kemungkinan ujian-ujian lain.

Dan, ditengah masa-masa itu, ada satu orang, yang awalnya aku sama sekali nggak kenal dia, nggak pernah ketemu dia. Yaaaa, dia alumni sekolah yang statusnya tetanggaan sama sekolahku sih, tapi aku nggak kenal dia. Ceritanya, dia tau aku dari sahabat cewe aku, soalnya sahabat cewe aku itu temen SMP nya dia. Dia minta whatsapp aku sama alamat ig aku ya dari sahabat aku itu. Dia chat aku, awalnya aku kacangin karena emang beneran nggak kenal, tapi dia chat lagi dan akhirnya aku tanggepin karena permintaan sahabat aku. Sekali aku tanggepin, dia sok asik gitu di chat, dan karena mungkin ketagihan kali ya, dia tiap hari chaaaaaat terus, meskipun banyak aku cuekinnya, tapi dia tetep rutin chat oh God. Bahkan dia minta aku buat ngangkat telepon sama VC nya dia, tapi aku nggak mau. Sampe akhirnya dia tanpa malu bilang kangen ke aku. Hallooooo, nggak salah mas? That’s a very strange thing you know? Kita kenal aja kagak, dan lu bilang kangen ke gua? Dan parahnya dia sampe nembak ya Allah, dia bilang kagum sama aku, bilang sayang sama aku, dan mau jalanin semua sama aku, what the hell? Ini orang siapa sih, aneh banget, dan itu nge-ilfeel-in banget tau gak? Parahnya aku udah nggak nanggepin, dia nyatain rasanya lagi masa. Oke, emang aku nolaknya secara halus, haluuuus banget, tapi ya tau diri dong mas, aku udah berusaha buat jaga perasaannya situ buat nggak tersinggung tapi ya jangan diulangin lagi, sampe aku bilang kalo aku punya pacar padahal mah KAGAK wkwkw. Geli sih, tapi ya nggak ada cara lagi emang. Maaf ya mas. Tapi dari dia aku nyadar diri dan bisa intropeksi tentang cerita aku sebelum-sebelumnya sih, kalo pasti orang bakal ilfeel dan ngerasain rasa yang sama kayak yang aku rasain sekarang kalo di ngungkapin perasaan sama orang yang sama sekali nggak kita suka, wkwk, tenang mas aku pernah ngalamin diposisimu sekarang kok, DAN AKU NGGAK BAKAL NGULANGIN hal yang kayak gini, malu-maluin diri sendiri:’) Maaf yaaaaa.

Nah, dari kejadian ini, aku curhatin ke sahabat cowo aku yang lain nih, bukan Dinar, tapi yang lain, karena sahabat cowo aku ada 3 orang waktu itu. Aku curhatin ke dia karena dia emang kenal sama orang yang nembak aku itu, karena dia temennya SMP juga. Di akhir curhatanku, sesuatu yang sama sekali nggak aku kepengen terjadi. You know? Sahabat aku itu malah keblabasan ngungkapin kalau dia punya rasa lebih ke aku, sayang ke aku sejak kelas 1 SMA. Oh, my God. How shocked I am, bener-bener nggak nyangka. Dan selama 3 tahun kita bareng kenapa aku sama sekali nggak peka. Malam itu campur aduk rasanya, bingung, kesel, deg-deg-an, pengen marah, semuanya jadi satu. Awalnya aku berusaha bijak buat nyikapin rasanya dia, menghargai apa yang ia rasakan padaku. Tapi dianya yang nggak tau diri! Dia minta lebih, setelah aku tau perasaanya, dia maksa buat aku juga ngebales rasanya dia. Gila ya lu? Gila? Kita sahabatan udah 3 tahun woy, dan lu ngerusak semuanya! Dan seketika itu aku benci-benci-benci banget sama dia. Berminggu-minggu sikap aku ke dia emang berubah sih, serius, nggak enak banget di situasi kayak gini, hubungan sahabat bisa renggang gara-gara masalah ini. Sampai akhirnya aku nggak tahan dan lebih memilih memutus hubunganku dengannya karena semakin hari sifatnya dia semakin menjengkelkan, memuakkan, dan menjijikkan dimataku. Aku menghapus semua kontaknya bahkan memblokir akun instagramnya, kita lost kontak sampai sekarang! Aku tau, Allah tidak menyukai hamba-Nya yang memutus tali persaudaraan, tapi bahkan aku mendengar namanya saja sudah jijik. Andai saja, dia bisa menghargai dan menerima keputusanku, semuanya tak akan separah ini, hingga persahabatan kita bener-bener rusak! Aku nggak tau lagi ekspresi apa yang harus aku pasang saat kita reunian SMA nanti. Hm. Entahlah.

Dari semua ceritaku ini, aku bener-bener mengambil hikmah dan pelajaran yang Allah kasih ke aku. Aku menyukai orang-orang yang tak menyukaiku, dan tak menyukai orang yang menyukaiku. Dan semua dengan masalah dan alasannya masing-masing. Dari situ aku tau kalau Allah ngejaga aku banget dari dosa pacaran, seandainya orang yang aku sukai juga menyukaiku dan orang menyukaiku aku juga menyukainya, mungkin aku akan terlena dan jatuh ke dosa pacaran. Allah looks after me, Allah loves me:’)

Dari ini juga, aku disadarkan tentang kalimat, perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik, begitupun sebaliknya. Alhamdulillah sejak lahir hingga sekarang, aku belum pernah pacaran karena Allah menjagaku, dan semoga terus seperti itu hingga aku benar-benar menemukan seseorang yang tepat kelak, yang benar-benar jodohku, yang aku mencintainya dan dia mencintaku.

Untuk kamu, seseorang yang belum kutemui.

Assalamualaikum, bagaimana kabarmu? Semoga Allah selalu menjagamu dimanapun kamu berada.

Perkenalkan, aku jodohmu. Jodohmu yang jauh dari kata baik dan sempurna.

Yang mencoba untuk lebih baik lagi, agar pantas untukmu.

Jodohku, semoga Allah selalu memudahkan semua urusanmu, memberikan rezekinya untukmu, melindungimu dari segala bahaya dan maksiat, selalu mengiringimu dalam mencapai cita-citamu.

Aku akan menjaga apa yang seharusnya kujaga untukmu, dan semoga kamu disana juga menjaga dirimu sendiri untukku.

Walaupun tulisan ini tidak sampai terbaca olehmu, tapi semoga setiap doaku untukmu setelah sholat sampai dilangit dan diijabah.

Jodohku, tunggulah aku, yang sedang memperkaya hati dan pikiranku, yang sedang meniti cerita untuk masa depan, semoga kaupun juga.

Setiap hal yang telah berlalu, menjadikanku mengerti bahwa sesungguhnya menunggu dan memintamu dalam doa lebih anggun daripada aku harus mengungkapkannya.

Dan aku mencintai kehilanganku dari orang-orang yang memang belum tepat untukku.

Jodohku, semoga kita dipertemukan dalam keadaan yang benar-benar diridhoi oleh Allah, yang saat kita bertemu, bertambahlah cinta kita pada Allah, bertambahlah rasa syukur kita.

Jodohku, aku disini berjuang untuk memantaskan diri untukmu.

Wassalam, dari jodohmu.

Hujan Senja dan Sepucuk Surat Untukmu, Seseorang Yang Belum Kutemui. (Bagian 1/2)

What do you think about love? Tentang cinta anak remaja SMA yang pengen banget ngerasain dicintai, dikasihi, dan diperhatikan?

Ternyata jatuh cinta tak semudah Salma yang mendapatkan tempat spesial di hati Nathan lewat handsaplas yang Salma pasangkan di pelipis Nathan yang berdarah, tak semudah itu. Juga tak semudah Milea yang jatuh cinta dengan Dilan karena diramal akan bertemu di kemudian waktu.

Dulu, pas masih SD, aku ngerasa masih bocah banget dan belum pantes banget buat cinta-cintaan, emang seharusnya gitu, anak SD emang seharusnya masih main dan belajar, itu aja.

Aku itu tipe orang yang gampang banget suka sama orang lain, walaupun belum kenal, ya manusiawi banget, emang aku liatnya dari fisik, dia good looking, langsung suka. Banyak banget cowok, banyak-banyak-banyak banget cowok yang aku sukai, mulai dari adik kelas, temen seangkatan sampai kakak kelas. Sekarangpun gitu. Tapi sama sekali nggak ada kepengenan buat jadi pacarnya atau bisa jadi milik dia. Tidak. Ya karena memang aku hanya menyukai, tidak mencintai.

Sampai akhirnya aku kelas 3 SMP, aku mulai menyukai seseorang, dan belum sampe cinta sih, aku tau dia, kenal dia, sayangnya dia nggak kenal aku, karena kita beda kelas. Aku juga gak tau sih kenapa bisa suka sama dia, padahal waktu itu dia dekil banget, cungkring, item, nakal, ganteng juga enggak, pinter apalagi, tapi dia manis wkwk, itu aja nilai plusnya, tapi kenapa aku bisa suka haha. Dan, dengan isengnya aku nyuruh temenku yang sekelas sama dia buat bilang KALO AKU SUKA SAMA DIA. Wkwk, and do you know what happened after that? Dia menolakku dengan kata-kata yang nggak enak banget buat didenger, padahal dia belum mengenalku, nggak tau aku, tapi sejahat itu nolaknya? Wkwk sakit sih, gini ya rasanya ditolak, padahal Cuma iseng tapi kok ya sakit haha, dan itu pertama kalinya aku nangisin seorang laki-laki. Daaaaan, besoknya dia ke kelas aku buat liat seorang cewek yang pemberani itu haha, aku malu sih, tapi yaudahlah ya, udah terlanjur ditolak juga, dan sampai akhirnya aku biasa aja kalo ketemu dia. Tapi setelah itu, dia kayak sering banget dateng ke kelas aku bahkan istirahat ujian juga dateng, haha. Tapi yaaa, maap gue udah ga suka sama lo.

Dan sampe akhirnya aku suka sama orang lain lagi, dia lebih goodboy sih dari yang pertama, lebih ganteng, lebih putih, dan lebih wangi. Beberapa bulan aku suka sama dia, dan yang aku lakuin cuma curhat sama temennya dia, sampai akhirnya juga dia peka kalo aku suka, wkwk. Seiring berjalannya waktu, mendekati kelulusan, rasa suka itu tambah gede semenjak kita satu tempat les persiapan UN. Tapiiii, tiba-tiba dia punya pacar, ya mau gimana ya, aku cukup tau diri buat nggak ngeharepin pacar orang. Mundur. Sakit sih, tapi yaudah sih. Sampai akhirnya kita lulus, dan kita masuk di SMA yang sama walaupun beda kelas. Lama kelamaan, rasa aku sama dia bener-bener hilang, dan kita berteman baik, baik banget sampe sekarang, dan dia putus sama pacarnya, udah lama sebenernya, pas awal-awal masuk SMA, tapi aku udah gak suka sih:)

Dipertengahan kelas 10, aku suka lagi sama orang, dia kakak kelas aku, aku bisa suka sama dia HANYA KARENA DIA NYAPA doang, konyol sih, disapa udah suka wkwk, dasar bocah. Sebenernya pas insiden sapa menyapa itu, kita sama sekali belum tau nama masing-masing haha. Yaaa, dia biasa aja sih, sekedar ramah sama adik kelas, tapi akunya yang kebaperan:(

Hari-hari berlalu cepet banget, kita semakin kenal satu sama lain dan deket semenjak dia putus sama pacarnya, kita sering ngobrol, baik secara langsung maupun di chat, dan betapa beraninya aku bilang ke dia, KAK, AKU SUKA SAMA KAMU. Hm, aku mungkin bisa membayangkan bagaimana ekspresimu membaca tulisan ini, about ur judgment on me, entah kamu cowo ataupun cewe, maybe u feel disgusted with me, kamu pasti mikirnya “Gila nih cewe gatau malu banget ya?” wkwkw, whatever u say, itu emang nyata, dan nyatanya emang gitu. Aku terlalu berani untuk mengungkapkan jika aku menyukai seseorang, dan tidak bisa menyimpannya terlalu lama.

Dan betapa baiknya dia, dia menghargai aku, menghargai rasaku yang menyukainya, dan dia tambah baik banget ke aku. Cerita ini berlanjut hingga hampir 2 tahun lamanya, ya ada kalanya kita lost kontak, kita nggak ngobrol berminggu-minggu, tapi kita masih berhubungan baik dan tidak ada masalah apapun. Karena seiring berjalannya waktu itu, yang lumayan lama menurutku dan kita sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, ya kayak kakak adik aja, rasaku lama-lama juga berkurang sendiri, hampir biasa aja. Dan suatu waktu, dia mulai berbeda, dia lebih sering menghubungiku, setiap malam mengajakku untuk ngobrol di chat, dan dia lebih perhatian dari sebelumnya. Kala itu juga, rasaku kembali, aku senang perlakuannya yang sekarang, berhari-hari seperti itu bahkan berminggu-minggu. Hingga suatu malam, dia menghubungiku berkali-kali, tapi aku membalasnya dengan terlambat karena aku sedang ada kegiatan di asramaku. Taukah kamu? Besoknya aku mendapat kabar bahwa semalam dia jadian sama orang lain! Oh shit man! Ketawa aja aku mah, ya nggak nyangka juga, sakit hati pasti, tapi nggak tau kenapa aku sama sekali tak membencinya, bahkan setelah dia punya pacar barupun, kita tetap berteman baik, jika bertemu dia menyapaku dan aku menyapanya, seperti tidak ada apa-apa, ya memang tidak terjadi apa-apa, haha, mungkin aku saja yang terlalu berharap!

Ya, semenjak itu juga, hubungan kami hanya sebatas saling senyum saat bertemu dan menghargai satu sama lain, aku juga tahu diri untuk tidak merusak hubungan yang ia bangun dengan orang lain, dan aku mencoba membuang semua rasaku.

Hingga akhirnya, aku bertemu dengan seseorang lagi, yang membuatku semakin bodoh tentang masalah perasaan, dia teman satu sekolahku, satu angkatan denganku, tapi beda kelas. To be continued, akan kuceritakan lagi tentang kisahku yang lebih lebih lebih nyakitin daripada ini di blog berikutnya. Karena ini udah terlalu panjang dan sudah malam banget, terimakasih sudah mampir dan mau membaca, tunggu kisahku selanjutnya hingga ceritaku sekarang, detik ini:)

 

@hafidhohasna

Bagian 2 bisa klik link ini https://adventureofmy.wordpress.com/2018/11/30/hujan-senja-dan-sepucuk-surat-untukmu-seseorang-yang-belum-kutemui-bagian-2-2-selesai/

Ayahku, Udaraku.

Apa yang lebih tulus dari cinta seorang lelaki kepada anak perempuannya?

Yang rela tak makan asal anaknya kenyang, yang rela tak tidur demi menjaga anaknya, yang rela berkeringat darah untuk memenuhi kebutuhan anaknya, yang paling sakit jika anaknya bersedih, yang paling takut jika anaknya tak merasa senang.

Cintanya seperti udara, tak terlihat namun terasa amat luar biasa. Aku begitu bersyukur mempunyai ayah yang melebihi hero-hero yang paling diidolakan.

Ayahku, satu-satunya orang yang percaya disaat semua orang tak percaya. Ayahku, satu-satunya orang yang yakin disaat semua orang tak yakin. Ayahku, bukan orang yang berpendidikan tinggi, namun pemikiran dan impiannya tinggi menjulang.

Dulu, waktu aku masih kecil, aku pernah marah, pernah nggak terima, pernah protes, kenapa aku harus punya ayah sepertinya? Yang dikit-dikit marah? Yang dikit-dikit ngebentak? Yang aku pulang telat udah diamuk? Yang aku cengeng malah tambah di pukul, aku pernah ngerasa hidupku keras banget, yang tiap hari isinya Cuma diamuk terus, yang jarang banget ngerasain kasih sayang dan lemah lembutnya seorang ayah.

Seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya umurku, bertambahnya kedewasaanku, berkembangnya pemikiranku, banyak sekali makna yang bisa kuambil, bisa kupelajari dan bisa kuterapkan pada hidupku sekarang dan seterusnya.

Saat aku sudah remaja, Ayah selalu bilang, bahwa aku harus menjadi perempuan yang hebat, yang bisa menjadi tangga untuk adikku, yang bisa dicontoh adikku, yang kuat seperti baja, yang berpendirian teguh dan pantang menyerah, yang enggak cengeng pada hal yang nggak perlu ditangisin, yang selalu bilang bahwa aku pasti bisa, yang bisa menjaga kehormatan orang tua dan pasanganku kelak, dan bisa menjadi perempuan yang bisa melahirkan anak-anak yang hebat juga dan bisa mendidiknya dengan baik pula.

Pesannya yang selalu kuingat, “Jangan lupa sholat, sholat, sholat, dan berdoa, karena saat kau jauh dariku, hanya Allah yang menjagamu.”

Untuk ayahku, terimakasih banyak, terimakasih atas semua yang telah kau berikan dan perjuangkan untukku, yang selalu menuruti permintaanku, yang selalu memberikan yang terbaik untukku, yang tidak pernah menuntut apa-apa dariku, yang selalu mengutamakan aku.

Inget banget, dulu waktu aku sakit gara-gara kena DBD, ayah yang paling khawatir, yang gak tidur semaleman gara-gara aku ngegigil dan nangis terus, yang keluar jauh-jauh nyari toko buka ditengah malem, sekitar hampir jam 2 pagi buat nyari jus jambu merah, that’s the thing I remember the most, and I feel guilty myself because yaaa kayak udah ngerepotin, nyusahin banget gara-gara aku sakit walaupun ayah menganggap itu sama sekali tak memberatkannya. I love you, love love love you so much.

11820703-1484167231896986-947515124-n-519e2a7c51850e3ff867c959212523f7

Inget juga, aku pernah diceritain ibuku, waktu pertama kali aku tinggal di pesantren, tiap malem ayah aku itu dengerin suara aku di hp nya, sebenernya ngga sengaja juga sih sebelum aku mondok, aku ngafalin juz amma, caranya aku sendiri itu, aku ngaji-ngaji aja, terus aku rekam di hp nya ayah aku (soalnya kualitas recording di hp ayah aku yang paling bagus wkwk), aku ngerekam suara aku ngafalin, daaaan lupa belum aku hapus sampai aku berangkat ke pondok, ayah aku tau kan ya, itu tiap malem suara aku diputer terus, didengerin sampai ayah aku tidur, ayah aku bilang ke ibuku kalo kangen aku huhu, tapi ayahku ga pernah bilang ke aku langsung, aku tahunya diceritain ibuku:’) sedih.

Terus waktu aku pertama kali berangkat ke Malang, aku dianterin ayah aku sampai stasiun kereta, beliau berdiri di deket jendela besar khusus pengantar gitu, beliau disitu terus nungguin sampai aku masuk kereta, sebenernya ayah aku ga tega kalo ngebiarin aku berangkat sendiri, tapi akunya aja yang keras kepala gamau dianterin, waktu kereta udah dateng, aku dadah-dadah ke ayah aku, aku ngeliat matanya merah, pas aku udah masuk kereta, aku liat dari jendela kereta, terus beliau dadah-dadah juga, masih terlihat jelas ayah aku ngusap pinggir matanya gitu, huuu kalo inget ini sedih banget, betapa sayangnya ayahku padaku:’) ini bukan karangan kayak di film-film gitu, ini beneran aku alamin bulan Agustus lalu.

Ayahku, udaraku. Cintanya tak terlihat namun bisa kurasakan, tak bisa kuggengam namun terpatri di nadiku. Cintanya begitu ikhlas dan tulus, seperti udara, yang lembut dan bisa menembus celah sekecil apapun untuk memberi kehidupan. Yang tanpa pamrih, seperti ayah. Yang menganggap pekerjaan beratnya itu sangat ringan jika untuk memberi kehidupan untuk keluarganya.

13108915-844779525627846-684887804-n-91c1ba8ebcac46a57684cefc5274735e

Ayahku, udaraku. Yang tanpanya aku tak bisa merasakan kehidupan, yang setiap detiknya kubutuhkan, yang tanpanya juga, duniaku mati.

Sehat terus, Yah. Sampai kau bisa merasakan dan menikmati jerih payahmu saat mendidikku, sampai kau bertemu dan memberikan tanggung jawabmu kepada laki-laki yang kau percayai bisa amanah menjagaku, sampai kau memiliki cucu-cucu yang lucu, sampai cucumu juga tumbuh menjadi orang-orang yang hebat juga, sampai kau tua dan tulangmu tak sekuat sekarang, kumohon selalu sehatlah. Tetaplah menjadi lelaki terhebat dan nomor satu untukku.

Ayah, sejak aku kecil sampai sekarang, selama 18 tahun sampai aku menulis tulisan ini, aku sekalipun tak pernah bilang secara langsung bahwa aku menyayangimu, sekalipun tak pernah. Tapi percayalah, aku adalah anak paling beruntung di dunia ini memiliki ayah sepertimu. Kuharap, suatu saat, entah kapan, entah saat aku mempunyai laki-laki lain yang menjagaku, bahkan saat aku sudah mempunyai malaikat-malaikat kecil juga, kuharap kau membaca tulisan ini, entah perantara dari siapapun, kuharap kau membacanya, aku ingin menyampaikan, bahwa, AKU SUNGGUH MENYAYANGIMU DAN BANGGA MENJADI PUTRIMU.

 

 

 

 

Sumber gambar dari IDNTIMES dan sijai.com